Harga Sebuah Perjuangan

by Novi on 3 March 2009

“Selama Barat masih menjajah kita lewat Media Informasinya, Jangan berhenti ngeblog!”

Diantara sekian banyak jam mengajar, training, workshop, ataupun pelatihan yang saya isi, pengalaman di Malhikdua memberi kesan yang berbeda, setidaknya bagi saya pribadi. Ada kepuasan yang saya dapat jika sudah memberi input kepada peserta di Malhikdua. Perihal audience/peserta yang rata-rata putri jelas memberi suasana hati lain, tapi semangat dan perjuangan dari mereka sendiri-lah yang membuat saya menjadi sebegitu dihargai.

Saya katakan sebuah perjuangan karena mereka rela meluangkan waktu ditengah padatnya jadwal Pondok. Sadar bahwa  saya di Pondok tidak mengajar bab-bab kitab fiqih, ushulfiqih, dll seperti ustadz-ustadz lainnya, sehingga apa yang saya berikan tidak begitu dianggap penting. Saya hanya berbagi tentang dunia TIK, terhitung semenjak saya semester 9 kuliah di ITS (7 th lalu) hingga sudah berekor 2 seperti sekarang. Karena tidak pentingnya saya seringkali harus menyesuaikan dengan jam-jam pondok yang sebenarnya mustahil bisa dicuri. Saya harus selalu rela dinomersekiankan sehingga jam mengajar saya -walau 1 bulan sekali, kadang 2 minggu sekali- tetap ditayangkan di luar jam-jam premiere. Biasanya jam 22.00-23.30 saat hari aktif sekolah, jam-jam saatnya mereka menguap berjamaah. Saya baru dapat tempat di jam-jam favorit jika hari libur (jumat). Tapi siapa yang mau datang di kelas saya disaat suasana hati santri sedang ingin istirahat setelah hampir 7×24 jam belajar.

Beruntung, dalam situasi yang sempit ada saja santri-santri, baik yang masih siswa maupun yang fase pengabdian, yang selalu setia menyambut ajaran “sesat” saya. Beberapa tampak ikut-ikutan, mencoba menyembunyikan kantuk walau sering gagal, sebagian yang lain sangat kaffah dan antusias. Waktu tertinggi pelajaran saya adalah jam 22.00-02.30, diikuti 11 santri. Dini hari itu, di depan kelas, saya harus teriak-teriak  tanpa mic dan LCD. ***

Atas dasar perjalanan TIK yang sedemikian berliku itulah yang membuat saya beberapa minggu lalu harus memberi reward kepada 6 santri yang telah menularkan dunia blogging kepada 150 siswa/santri lainnya. Dari keringat jerih payah mereka penyebaran TIK tidak lagi diam-diam, syiri, atau gerilya seperti yang pernah saya lakukan dahulu. Saya berikan buku-buku cerita/novel sekedar untuk menghibur mereka. Tidak pantas sebenarnya apa yang saya berikan untuk mereka. Jika jadi direktur perusahaan tentu sudah saya berikan bonus mobil atau umrah seperti program-program perusahaan dalam memotivasi karyawannya. Tidaklah terlalu berlebihan, sebab jasa mereka dalam menyiarkan Pondok tak ubahnya seperti Humas dalam suatu organisasi, atau Public Relation dalam sebuah coorporate.

Apa yang saya rasakan terhadap perjuangan mereka ternyata tidak sendirian. Lab Komputer, sebagai tempat peluh mereka dalam mengajari teman-temannya ngeblog juga turut memberi hadiah. Berupa koneksi internet gratis. Kalau tidak salah untuk selamanya. Sangat tepat bagi Lab karena geliatnya mereka yang nge-net kembali memutar jiwa enterprenuer mereka dalam mencari penghasilan tambahan, dalam himpitan mahalnya maintenance Lab. Santri butuh ngeblog sementara Lab butuh nafas. Sebuah hubungan simbiosis yang sangat mutualism.

Sayangnya, perjuangan TIK dan santri dalam mengharumkan citra pondok lewat kegiatan bloggingnya tidak disambut applaus oleh yang lain. Turun ‘fatwa’ larangan berinternet malam dari Pondok. Sejak itu kehidupan bagai mati. Burung tak lagi berkicau, sungai berhenti mengalir, dan angin tak lagi berhembus. Diam dan beku..

Saya hanya berpesan kepada santri-santri untuk tidak berhenti, walaupun kembali dengan cara diam-diam. ***

Foto diambil dari

http://vector.ardyansah.com
http://www.champaignschools.org/staffwebsites/handelde

http://www.lovelylingfield.com/

Keluarga-keluarga barat (Yahudi) terus selalu menyiapkan generasi yang melek internet demi mempertahankan hegemoni Informasi atas dunia dan mendegradasi nilai-nilai islam.

{ 3 trackbacks }

Rindu Tebal tak Tertahankan
17 May 2009 at 4:43 pm
Ngeblog Berhadiah Sendal Jepit, Upaya Positifkan Internet di Pesantren « Internet Sehat
14 March 2010 at 11:51 am
NgeBloG Modal Sendal Jepit, Upaya Positifkan Internet di Pesantren Di Era Globlalisasi | Media Sejuta Warna dan Cita-Cita [DOT] Com
17 March 2010 at 12:34 pm

{ 25 comments… read them below or add one }

endar 3 March 2009 at 3:37 am

setuju, dukung, centhang,.. ngomong opo to iki.
pokoke sing penting ngeblog. jarene sing podo komentar nang nggonku “keep blogging”.

btw salam kenal sudah saya link ya. nang tag temanku

Reply

Dony Alfan 3 March 2009 at 4:18 am

Salut buat santri2 Malhikdua! Saya benar2 terharu. hiks

Reply

mantan kyai 3 March 2009 at 6:01 am

gmana kalo kt bkn pondok sendiri. kt bs pakai islamic centre surabaya. dekat kok sama doli.

btw i hate …

Reply

MQ Hidayat 3 March 2009 at 7:37 am

Mudah2an smangat ngeblog terus tular-menular, sambung-menyambung, hingga menjadi banyak-membanyak.
Salam buat smua santri malhikdua

Reply

ikun 3 March 2009 at 8:12 am

Follow….

Reply

Big Sugeng 3 March 2009 at 9:19 am

Saya jadi ingat anak saya, anak saya banting tulang untuk bikin web sekolah dengan biaya sendiri. Saya melakukan pendekatan ke guru dan kepala sekolah, minimal nengok lah, komentar atau bikin tulisan sebagai bentuk “penghargaan” atas jerih payahnya. Biasanya saya ngasih masukan dan info sekalian saya mbayar SPP dan sekalian silaturakhim. Jangan berhenti berjuang Boss…..

Novi:menunggu anak pak Sugeng disekolahkan disini. biar bisa bantu2 kami untuk ngembangin TIK. Santri disini cantik2 loh pak :”)

Reply

genthokelir 3 March 2009 at 10:39 am

semangat tentu untuk sampean, sukses berbagi adalah obat tolak miskin

novi:terima kasih mas semangat dan sarannya. moga smkin sukses saja buar mas totok

Reply

Novianto 3 March 2009 at 10:40 am

Semoga Ngenet dan Ngeblog jalan terus kang

Reply

suryaden 3 March 2009 at 11:31 am

sudah seharusnya memang jadwal ngeblog itu di beri porsi yang lebih atau diprioritaskan, entah bagaimana caranya

Reply

afin 3 March 2009 at 3:11 pm

sukses terus tuk mas novi, semoga amal ibadahnya diterima Allah SWT. Amin. Tuk bloger malhikdua, terus berjuang ya…..

Reply

nafisa 3 March 2009 at 3:38 pm

tenang aja mas jenengan dah disebut pahlawan kok sama mereka ………. hi hi hi

Reply

senoaji 3 March 2009 at 3:41 pm

ngeblog diusahakan diblogmark biar gampang diinget dan diakses.. semangat

Reply

Andy MSE 3 March 2009 at 7:21 pm

weit…. internet haram ya?? (doh)… semoga segera ada revisi fatwa, hehe

Novi: ya enggak Mas Andy, internet boleh-boleh saja dan kapan saja asal tidak malam hari. Cuma kapan ya? :-)

Reply

madhysta 3 March 2009 at 11:30 pm

semangat…semangat…..semangaaaaatttt… hehehehe….
kata beberapa orang itu termasuk bit’ah…..
bener ga siiih….

novi: ya nggaklah. disini tdk diharamkan. hanya saja tidak diprioritaskan. padahal bekal TIK sangat penting agar kita bisa cerdas dlm menangkap gempuran informasi dari media asing. syukur kita bisa jadi produsen info untuk mereka. Mungkin gak ya :-)

Reply

sawali tuhusetya 4 March 2009 at 12:45 am

selamat menyebarkan virus IT dan blog ke dunia pesantren, mas novi, agar generasi yang lulus dari kultur pesantren benar2 memiliki bekalyang mantab utk terjun ke masyarakat.

Reply

koekoeh 5 March 2009 at 10:39 am

salam kenal pakde ^^!

Reply

grubik 6 March 2009 at 2:45 pm

Iya, tetep semingit…

Reply

hanstoe 7 March 2009 at 12:17 am

hidup nge blog
budayakan ngeblog :) )

Reply

4rever 7 March 2009 at 9:47 am

mas sabar ya…mereka insya Allah semangat ko. karena mereka punya salam Dahsyat.
“aku bisa……… aku tau……….. aku mau…. aku mampu. walau ngumpet-ngumpet. he….

Reply

ipanks 7 March 2009 at 3:54 pm

nah itu dia om,kenapa yap setiap kegiatan positif yang kita lakukan, walaupun belum menampakkan hasilnya dengan jelas, selalu kena aturan-aturan/larangan-larangan yang menurut kita sendiri dan orang lain sebenarnya ga perlu.hiks…

Reply

Danta 8 March 2009 at 8:00 pm

Wah.. kagum dengan santri malhikdua.. kecil2 sudah melek teknologi informatika, beda dengan saya waktu itu..

Reply

yummy 26 March 2009 at 3:11 pm

emangnya dulu kamu merem ya?
mr.nop nih suka nbanget nyanjung orang sih!
jadi terharu……
wuek…..

Reply

saifunalyoom 11 May 2009 at 12:25 am

ensyaAllah harganya mahal mas….

Reply

Indonesia Menulis 23 June 2009 at 11:28 am

Setelah baca artikel sampeyan saya salut, dari 6 menjadi 150. Meski internetan malem dilarang, tp pasti ada jalan lain. Btw kalo ngajarnya malem, santri putri yang ngikut gimana?

Reply

muslimq 23 June 2010 at 2:30 pm

nice artikel nich…
semoga semngad yang da pada diri anda tak pernah luntur…
lanjutkan…

Reply

Leave a Comment