<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	xmlns:sy="http://purl.org/rss/1.0/modules/syndication/"
	xmlns:slash="http://purl.org/rss/1.0/modules/slash/"
	>

<channel>
	<title>Jalan Santai Lagi &#187; puisi</title>
	<atom:link href="http://novi.blogmalhikdua.com/category/puisi/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://novi.blogmalhikdua.com</link>
	<description>Lebih enak daripada digendong mbah</description>
	<lastBuildDate>Fri, 02 Jul 2010 08:11:51 +0000</lastBuildDate>
	<language>en</language>
	<sy:updatePeriod>hourly</sy:updatePeriod>
	<sy:updateFrequency>1</sy:updateFrequency>
	<generator>http://wordpress.org/?v=3.0</generator>
		<item>
		<title>Tahu Tek oh Tahu Tek</title>
		<link>http://novi.blogmalhikdua.com/2009/05/23/tahu-tek-oh-tahu/</link>
		<comments>http://novi.blogmalhikdua.com/2009/05/23/tahu-tek-oh-tahu/#comments</comments>
		<pubDate>Sat, 23 May 2009 14:39:28 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Novi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Serba-serbi]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[stress]]></category>
		<category><![CDATA[pak ali dinoyo]]></category>
		<category><![CDATA[tahu tek]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://novi.blogmalhikdua.com/?p=698</guid>
		<description><![CDATA[Ini adalah kisah cinta mati saya dengan sebuah makanan, tahu tek namanya. Memang, diantara makanan yang banyak beredar di tanah air hanya golongan berpetis yang selalu bertambat dihati dan lidah. dan diantara makanan berpetis itu rupanya tahu tek luweh tresno menjadi idaman. Sudah berapa kali tahu tek selalu menjadi santapan, dan berapa banyak tempat tahu [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><img class="alignleft" src="http://tbn0.google.com/images?q=tbn:DY6kGBK0pPAe0M:http://upload.wikimedia.org/wikipedia/commons/2/21/Love_heart_uidaodjsdsew.gif" alt="" width="115" height="92" />Ini adalah kisah cinta <span style="text-decoration: line-through">mati</span> saya dengan sebuah makanan,<strong> tahu tek </strong>namanya. Memang, diantara makanan yang banyak beredar di tanah air hanya golongan berpetis yang selalu bertambat dihati dan lidah. dan diantara makanan berpetis itu rupanya<strong> tahu tek </strong><em>luweh tresno</em> menjadi idaman. Sudah berapa kali <strong>tahu tek</strong> selalu menjadi santapan, dan berapa banyak tempat <strong>tahu tek</strong> yang saya kunjungi.<span id="more-698"></span></p>
<p><strong>Tahu tek</strong> telah menjadi kisah tersendiri bagi saya. Orang yang <em>memakcomblangi</em> saya dengan tahu tek adalah David, kawan sewaktu masih kuliah. Namun beliau sudah meninggal dunia (semoga arwahnya diterima di sisi-Nya), sehingga menjadi memorabilia tersendiri bagi saya. Jika sebelumnya saya bersikap cuek kepada penjual <strong>tahu tek</strong> yang lewat tapi berkat perantara Alm. David segalanya jadi berubah setelah dia mengajak makan di <strong>Tahu Tek</strong> Pak Ali Dinoyo.</p>
<p>Selanjutnya, saya benar-benar jatuh hati pada<strong> tahu tek</strong>. Tarifnya yang sangat terjangkau membuat saya sering hunting tahu tek kemanapun pergi. Ada <strong>tahu tek</strong> depan sekolah balantara yang sungguh enak,<strong> tahu tek</strong> kartolo yang lewat tiap siang di kampung, bahkan ada juga tahu tek remang-remang di depan pabrik elektro yang antreannya bisa sampai 2 jam dan saya tetep terlena untuk menunggu. Dan banyak lagi <strong>tahu tek &#8211; tahu tek</strong> lainnya.</p>
<p>Begitu lekatnya saya pada <strong>tahu tek</strong> kemanapun pergi rasa itu selalu membayang, hingga kemana-mana saya tetap harus mencari <strong>tahu tek</strong>. Jika di Jakarta <strong>tahu tek</strong> susah dicari, saya akan mencari makanan yang agak-agak mirip, namanya tahu telor. Enak, tapi tetap belum mampu menjawab kerinduan, karena tanpa petis hanya ulegan kacang yang ditambah telor. Atau kadang memaksa makan ketoprak sambil membayangkan <strong>tahu tek</strong>, tapi hanya rasa eneg yang muncul karena ulegan kacangnya yang masih kasar.</p>
<p>Begitulah latar belakang dan perjalanan <span style="text-decoration: line-through">romantis</span> saya dengan <strong>tahu tek</strong>, sampai terjadi sesuatu yang sangat menyakitkan. Dimana tadi siang, ditengah eskalator yang sedang berjalan naik, <strong>Tahu tek</strong> itu tiba-tiba menampar diri saya didepan umum.</p>
<p><em>Prak..priank..priankk..</em> bunyi piring jatuh dan pecah berserakan. Semua mata memandang. Saya salting, panik, dan malu..!</p>
<p><strong>Tahu tek.</strong>. oh <strong>tahu tek</strong>â€¦Â   <em>Cok!!</em></p>
<p><em> *******************<br />
</em></p>
<p><a href="http://2.bp.blogspot.com/_WRIMzlP6myw/SWRDfOa_UUI/AAAAAAAAAH4/v8axoVvVXcs/s320/tahu-tektek-3.jpg"><img class="alignnone" src="http://2.bp.blogspot.com/_WRIMzlP6myw/SWRDfOa_UUI/AAAAAAAAAH4/v8axoVvVXcs/s320/tahu-tektek-3.jpg" alt="" width="446" height="333" /></a></p>
<p>Postingan ini mengantar saya buat mengucapkan minta maaf yang sebesar2nya untuk pramusaji yang kerjaannya menjadi terganggu akibat ulah tangan saya yang tiba-tiba (entah darimana datangnya) menyenggol tatakan Tahu tek yang sedang anda hantarkan ke pemesan. Saya hendak minta maaf, tapi anda keburu meminta maaf. Padahal itu salah saya. Semoga bos anda tidak bengis memarahi, syukur bisa memaafkan.</p>
<p>Sampai malam bau anyir petis terus menyengat, sampai jaket dan celana harus kucuci dan kurendam dengan pewangi.</p>
<p><strong>Glosari<em>:</em></strong></p>
<p>Menurut<em> </em>wiki, tahu tek adalah salah satu <a title="Makanan" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Makanan">makanan</a> khas <a title="Kota Surabaya" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kota_Surabaya">kota Surabaya</a>.</p>
<p>Tahu Tek terdiri atas <a title="Tahu" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Tahu">tahu</a> goreng yang dipotong kecil-kecil dengan gunting, <a title="Kentang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kentang">kentang</a> goreng setengah matang, <a class="new" title="Taoge (halaman belum tersedia)" href="http://id.wikipedia.org/w/index.php?title=Taoge&amp;action=edit&amp;redlink=1">taoge</a> dan <a title="Kerupuk" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kerupuk">kerupuk</a> <a title="Udang" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Udang">udang</a>. Semua itu kemudian disiram dengan bumbunya yang terbuat dari <a title="Petis" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Petis">petis</a>, <a title="Kacang tanah" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Kacang_tanah">kacang tanah</a>, <a class="mw-redirect" title="Cabe" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Cabe">cabe</a> dan <a title="Bawang putih" href="http://id.wikipedia.org/wiki/Bawang_putih">bawang putih</a>.</p>
<p>Menurut saya : Tahu tek semakin hitam semakin enak rasanya.</p>
<p>Foto diambil dari <a href="http://clicksyamsul.blogspot.com/2009/01/jus-semangka-versuss-tahu-tek.html">sini</a></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://novi.blogmalhikdua.com/2009/05/23/tahu-tek-oh-tahu/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>31</slash:comments>
		</item>
		<item>
		<title>Jalan Sunyi *</title>
		<link>http://novi.blogmalhikdua.com/2009/05/10/jalan-sunyi/</link>
		<comments>http://novi.blogmalhikdua.com/2009/05/10/jalan-sunyi/#comments</comments>
		<pubDate>Sun, 10 May 2009 14:33:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>Novi</dc:creator>
				<category><![CDATA[Traveling]]></category>
		<category><![CDATA[puisi]]></category>
		<category><![CDATA[minggu kelabu]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://novi.blogmalhikdua.com/?p=554</guid>
		<description><![CDATA[Akhirnya kutempuh jalan yang sunyi Mendengarkan lagu bisu sendiri di lubuk hati Puisi yang kusembunyikan dari kata &#8211; kata Cinta yang tak kan kutemukan bentuknya Kalau memang tak bisa engkau temukan wilayahku Biarlah aku yang terus berusaha untuk mengetuk pintu rumahmu Kalau memang tak sedia engkau menatap wajahku Biarlah para kekasih rahasia Allah yang mengusap-usap [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p>Akhirnya kutempuh jalan yang sunyi<br />
Mendengarkan lagu bisu sendiri di lubuk hati<br />
Puisi yang kusembunyikan dari kata &#8211; kata<br />
Cinta yang tak kan kutemukan bentuknya<span id="more-554"></span></p>
<p>Kalau memang tak bisa engkau temukan wilayahku<br />
Biarlah aku yang terus berusaha untuk mengetuk pintu rumahmu<br />
Kalau memang tak sedia engkau menatap wajahku<br />
Biarlah para kekasih rahasia Allah yang mengusap-usap kepalaku</p>
<p>Akhirnya kutempuh jalan yang sunyi<br />
Mendengarkan lagu bisu sendiri di lubuk hati<br />
Puisi yang kusembunyikan dari kata &#8211; kata<br />
Cinta yang tak kan kutemukan bentuknya</p>
<p>Mungkin engkau memerlukan darahku untuk melepas dahaga<br />
Mungkin engkau butuh kematianku untuk menegakkan hidup<br />
Ambilah.Ambilah. Akan kumintakan ijin kepada Allah yang memiliki<br />
Sebab toh bukan diriku ini yang kuinginkan dan kurindukan</p>
<p style="text-align: right">Emha Ainun Nadjib</p>
<p style="text-align: left"><em>*) Insprirasi untuk ganti tema di Minggu Kelabu. Aku tidak menunggu keajaiban. Hanya mencari kesempatan tanpa mencuri ketentuan. &#8220;Apakah waktuku dan waktumu tak akan pernah bisa bertemu?&#8221; Sayangnya, &#8220;hanya&#8221; ini menjadi arti yang kecil buat mu. Ya Sudah. Semoga impianmu tercapai.<br />
</em></p>
<p style="text-align: left"><strong>Duh Gusti mugi paringo ing margi kaleresan, kados margining manungso kang manggih kanikmatan, sanes margining manungso kan Paduka laknati</strong></p>
<p style="text-align: left">Semoga pula tercapai impianku yang <span style="text-decoration: line-through">sebenarnya</span> sama.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://novi.blogmalhikdua.com/2009/05/10/jalan-sunyi/feed/</wfw:commentRss>
		<slash:comments>18</slash:comments>
<enclosure url="" length="" type="" />
		</item>
	</channel>
</rss>
